Rabu, 12 Mei 2010

“ janur di saat sore “

1 comments

( untuk Astutik yang sedang bahagia )

Kali ini menjelang sore
panas mentari tak begitu menyengat
semilir angin bak daun ketapang berjatuhan
diiringi hiruk-pikuk mahasiswa

Kunikmati ultraviolet dengan segelas kopi
sembari kuhisap rokok
dengar kicau burung, merdu

Sore ini menjadi bahagia
sesosok perempuan tape, pandangi lengkungan
janur kuning di depan rumahnya, seuntai
melati pun melekat di kepalanya

Masih menjadi sore
canda, tawa, tangis kebahagiaan
dalam ritual sunnah rasul-Nya
setelah bertahun-tahun, tiba saat sore

Sore selalu bahagia, kali ini
aku bisa merasakan senyumnya
tapi, aku tak ada disana …


okik
( 02:01 ; 060510 )

Kamis, 29 April 2010

senyuman

1 comments

Eksotisme pagi selalu terasa
saat mentari keluar dari peraduannya
kicau burung gereja memikat pasangannya
tangis bayi serta senyuman anak-anak,
siapa yang tak tercengang olehnya ?

Aku terpesona pagi
tiap tetes embun yang jatuh
kulihat senyum membias stomatanya
pejantan pun tersenyum
rayu betinanya
sungguh, aku terpesona pagi

Jingga, bertalu rindu kau bertanya
ah... kini hari sudah senja
tak mampu kujawab apa adanya

Aku hanya ingin tersenyum
tersenyum atas tanya yang Kau beri
tersenyum lima kali sehari . . .


okik
( 210410 ; 18:37 )

Senin, 22 Maret 2010

“ seorang pecundang “

2 comments

Sebuah kisah tengah menengadah
tak mau menghadap kebawahnya
sembilan bukan yang lalu
sakit yang kunikmati, selalu
kini mulai pahit, terasa

Aku ingin terus menulis
menjadi baris dari tiap baitmu

Ini raga seorang pecundang
ketika sajak-sajakku
hilangm pergi, ataukah tercuri ?

Ini hidup seorang pecundang
diinjak-injak tak bisa melawan
dicampakkan jiga diacuhkan
sungguh, tak begitu menyenangkan

Andai delapan pedang mata angin
hendak menghunus mataku
aku mau empat pedang menancap pada hatiku
dan sisanya menghunus jantungku
agar aku masih bisa melihat
dinamika kehidupan, masih sama

Ketika lingkungan di sekitar tak peduli
selalu terjebak animo masyarakat sekitar
memang, terjebak pada hidup yang terencana

Aku ingin tetap menengadah
berharap pada sajak-sajakku, sajak lamaku
kutunggu, dan kupungut serta

Inilah hidup seorang pecundang
ingin tetap menengadah sajak lamanya


( 020310 ; 03:05 )
Kamare langgeng

Senin, 01 Maret 2010

antara beda dan sepi

0 comments

Kali ini serasa beda
Saat kubuka mata
Kujejakkan langkah
Namun sesak dada

Malam kembali sepi
Jalanan tampak malamnya
Bukan hari seperti biasa, entah
Tak kudengar korek pemulung menyulut sebatang rokok
Ataupun gepeng, penguasa kali ini

Malam kembali sepi
Bertalu rindu tak bertabur penghuninya
Langit tak berpendar gemintang
Tak jua biaskan cahya rembulan
Awan lambaikan tangan menatap kebawahnya
Ah, kau tak bertutur sapaku

Kali ini serasa beda
Ini malam kembali sepi
Aku yang beda
Aku yang sepi


250210 01:42
Kamare langgeng

Sabtu, 27 Februari 2010

“ krisis “

0 comments

Ini malam tak lagi bertuan
Diam, sendiri . . .
Kepalaku serasa delapan
Diam, gelap . . .
Aku ingin tempat berbaring

Sepekan petang hanya bayang
Tubuhku berubah sejadinya
Tak tahu aku apa aku sekarang
Gelap, nangkring . . .

Gerak tubuh sekeliling
Bayangan kaca depan mata
Tak hirau segala apa
Mampus ! aku tak peduli
Sampai krisis tanggung jawabku
Mampus ! aku tak peduli



160110 01:46
Kamare suga

Jumat, 05 Februari 2010

sEndiriAn

0 comments

Hampir tiga bulan berlalu
ini malam menghujam tubuh
dalam tangan menggenggam rindu
bertulis kenangan menderu pilu

Sunyi menjilat belung
dalam kamar tersudut alur
yang kini mulai merajam organ dalamku
tak beraturan . . .

Hari-hari terasa monoton
berpikir mundur pada jejak yang mulai hilang
ini jalan terputus pandang
dibalik bayang langkahku terbuang

Ini langkah terngiang sungguh
ingin tetap pada tubuh yang dulu

Disini, hanya ada aku
berdebat dengan pena tentang wanitaku

Jumat, 08 Januari 2010

“ Antirogo Pagi “

2 comments

Antirogo pagi nampak layaknya petang
Wajahnya kelabu,
Mendung . . .
Ini pagi masih dingin
Rasanya menjijikkan,
Jengkelkan tubuh . . .

Ah …!
Fajar tak bisa kulihat
Duduk sama Munil, temanku pagi ini
Nikmati aroma tanah liat
Sambut belai padian,
Juga rerumputan, nguning . . .

Tes… tes… tes…
Nangis langitnya
Basah padinya, lembek
Tanah liatnya . . .
Ramai, riuh
Aktifitas para ibu
Sibuk belanja untuk sarapan
Anak-anaknya ke sekolah
Suami yang akan pergi kerja
Ah, sungguh hebat kaum ibu . . .
Kuat, ikhlas, setia, penuh
Kasih sayang . . .

Aku diam di gubug dampingi Munil
Bawahnya, sungai
Kricik… kricik… kricik …
Cerita terkembang
Asap rokok mulai gentayangan

Ah …!
Antirogo pagi . . .
Sejuta cerita simpan terhadapmu
Layarmu terkembang
Fajar pun mulai datang
Nampak . . .
Bias . . .
Hangatkan tubuh
Sejukkan jiwa . . .


Antirogo
070110 06 : 00

“ sesal salahku “

0 comments

puisi dari emiLya ( 240909 10 : 49 )


Malam datang menerkam diriku
Semakin takut aku mendatangi waktu
Bingung resah rasanya
Mengapa jadi begini ?

Waktu begitu cepat
Tapi kuterus nikmati
Walau hanya sebuah fatamorgana
Dan hanya diri ini yang tau

Tak kusangka dia tau
Fatamorgana yang tak pasti
Dan tapi ini berlanjut
Terhubung antar tali

Hingga penyesalan datang
Aku tak dapat berkutik lagi
Bibir bungkam
Mungkinkah penyesalan ini berakhir.

“ kosong “

0 comments

Di kamar, putih lampu temaram
Menanti malam berkabar terang
Namun rembulan tak kunjung benderang
Hanya gemintang yang selalu terdiam

Ini malam tak bernafsu
Rembulan tak bertutur sapaku
ini raga lagi tanya
tentang semua yang mulai beda

hidup hanya sebuah perjalanan
karena akhir,
adalah awal dari semua penantian . . .


kamare sugHa
060110 01 : 42

Kamis, 07 Januari 2010

" Latihan Alam XIV "

0 comments

( untuk para pioneer )


Genderang perang sudah ditabuh
Belasan pasang telapak tangan
Ditumpuk, melingkar,
Bergandengan…

Upacara dilaksanakan
Tembang persaudaraan dilantunkan
Bendera dikibar-kibarkan

Ini raga bernama pioneer
Musik, teater, puisi, rupa, juga tari
Kami bawa bersama

Merantau ke tempat tak bermanusia
Yang ada hanya kunang-kunang dan daun pohonan
Tiga hari membangun tempat persinggahan
Untuk kemudian berperang sepekan
Agar proses seni kami tak mati suri lagi

Genderang perang sudah ditabuh
Belasan pasang telapak tangan
Ditumpuk, melingkar, bergandengan
Lantunan tembang persaudaraan sepanjang jalan
Kobar !!! semangat . . .
Diantara pedagang jalanan
Kobar!!!semangat . . .
Lantunkan tembang persaudaraan!!!

“Journey story “

0 comments

If my eyes be able to exchange with your mouth
I will read your rhyme
In my heart without seeing [it]
Write down all about your life

This life too silent
I wish again to public road
Seeing every life dynamics
Feeling every difference of journey have

Order to crack of journey
I look into the sky with my naked eyes
Hoping night has good news [to]
There is no breath which [is] flower

This isn’t life a person
Only looking for zest society
Because I do not act to do
Act up too old act a part in others copy
I … don’t

(transLate from "kisah perjalanan")

Minggu, 03 Januari 2010

“ bayang-bayang “

0 comments

Siang mengambang, sore menjulang
ku terus berdendang, di atas bayang
mata kian berlinang, engkau datang
menghilang . . .

Kenapa kau datang lagi ?
di alam menguras mimpi

Akh . . . kau datang
di saat aku tak dapat
membuka mata
di saat aku tak dapat
berkta apa-apa

Tanpa undangan
dari langit terang
engkau lagi datang
menyuguhkan sepercik bayangan

Hal terburuk, menakutkan
terpuruk, menjanjikan
namun terindah, membayangkan
termanis, membahagiakan

Siang mengambang, sore menjulang
ku terus berdendang, di atas bayang
mata kian berlinang.
Ku ucapkan . . .
sekali lagi ku ucapkan
selamat tinggal terang
selamat tinggal
sayang . . .


jember, 02 agustus 2009
( 02:20, swapenka )

“ dua puluh lima “

0 comments

( untuk Latihan Alam Dewan Kesenian Kampus 21-27 Desember 2009 Sumber Jambe )


Genderang perang usai ditabuh
menatap langit gemintang benderang
berharap malam berkabar terang
meracik benih-benih kesenian di altar kehidupan

Puluhan pasang telapak tangan
ditumpuk, melingkar,
menggenggam erat tembang persaudaraan

Ini subuh jadi saksi
sepekan perang yang dijalani

Di pinus, ikrar dilantunkan
dua puluh lima pasang telapak tangan
melingkar, bergandengan,
khusyuk . . .
dibalik tangis kebahagiaan, canda
keharuan, terucap . . .
“ Bagaimanapun Juga Kau adalah Saudara Kami “

Dua puluh lima pasang telapak tangan
dua puluh lima raga yang bernama
dan dua puluh lima jiwa
kini, mulai bersaudara . . .

Rabu, 02 Desember 2009

Cahaya-Q

0 comments

Aku mencari seberkas cahaya
Kulepaskan semua rasa dalam jiwa
Hanya untuk cinta…

Hanya satu cahaya yang bisa memikatku…
Sebuah bulatan besar yang bersinar terang,
Penuh harapan
Penuh kehangatan
Sebenarnya aku tahu,
Tak hanya engkau yang mampu bersinar di dunia ini
Begitu banyak bulatan lain yang dapat bersinar
Namun, hanya kilauan sinarmu dan senyuman manismu-lah yang yang bisa menumbuhkan semangatku
Dan hanya engkaulah yang mampu menghanyutkan kehidupanku
Menuju muara keindahan

Kaulah mentariku…
Mentari yang mampu bersinar terang
Yang bisa menuntunku keluar dari gua kegelapan
Menarikku dari jurang kenistaan…

Walau aku tahu…
Juga kupahami…
Engkau tak hanya menyinariku
Namun,
Kilauan sinarmu kan kusimpan
Kan kujaga kemurniannya…
Sampai dua batu nisan kan menemani…..
Tidurku yang panjang…


“10082008” 10:25
koSan gEban9

“ ada benak, lalu kelam . . . “

0 comments

Tengah hari kemarin
Buruk semua bayang
Saat mata terpejam
Lalu, buyar . . .

Ada mentari dilahap purnama
Byar . . . pet . . .
Byar . . . pet . . .

Terlambat waktu
Ada benak, lalu kelam
Di kampus, aku jalan sendirian
Gelap . . .
Hanya lampu sepeda membakar jalanan

Inginku tendang daun pohonan
Lalu terlempar ke bawahnya
Tapi urung tak ada dusta

Kelam langkah, lagi di kampus
Ada tas dan rokok menari telanjang
Bayang terus kini ada
Lagi, inginku tendang kayu pohonan
Dan terlempar ke dalamnya

Malam tambah merasuk
Di sekret, dengar canda
Getah ketapang menetes, sayup dihantam gelap

Ini langkah sepi sudah
Kelam benak jadi semati rindu
Tubuh yang lalu, buruk jadi mimpi
Tubuh persaudaraan jadi selapuk kayu

Lunglai aku, selunglainya . . .
Penyakit lama mulai lagi
Kumat, sampai puncak . . .
Kelam benak semati kayu . . .


301109 – 021209

Senin, 30 November 2009

kembali dulu

0 comments

Tetap semua kembali dulu
Lalu . . .
Tumpah sudah air gelasnya
Basah . . .

Kian hari kian menjadi
Tak layak dia ingin kembali
Meringis pergi batu kali-nya
Kau . . .

Kayu ditusuk tembus matanya
Melongok jauh, sejengkal saja
Anyir, bau tubuhmu
Asin, rasa bajumu . . .

“ Kaum Pembodoh Zaman “

0 comments

Kaum pembodoh zaman
Kerjanya memberi masukan
Cuma mengkritik dan memberi saran
Kawan atau lawan dianggap bawahan

Kaum pembodoh zaman
Suka merantau ke negeri orang
Mencari popularitas lebih gampang
Dengan memberi kritikan dan saran

Kaum pembodoh zaman
Di negeri sendiri sendiri tak mau turun tangan
Menyuguhkan dogma-dogma jahiliyah 90-an
Tak ada lagi persahabatan atau persaudaran

Kaum pembodoh zaman
Tertawa diatas kaum yang terbuang
Memaksa kaum terbuang kerja keras dengan ide yang terpampang
Sampai hidup mereka seperti gelandangan

Kaum pembodoh zaman
Besar mulutmu layaknya nisan
Lebih baik kau mati ditelan batu pohonan
Agar negeri ini kembali benar

Kami kaum terbuang
Kerja keras sampai jadi gelandangan
Tak mau lagi jadi bawahan
Dari kau, kaum pembodoh zaman

Dan kami . . .
Bukan kaum pembodoh zaman


cOot’zZ
221109 04:22

Kamis, 05 November 2009

“ maafkan aku, Luna … “

0 comments

Tetes hujan kian nampak stomatanya
semilir kurasa makin nyata
bebatang, reranting, dedaunan
tersenyum manja
sehabis basah, ditingkap cahaya
….. Luna

Oh, Luna …
kau nampak cantik hari ini
rautmu bundar, nguning …

Kudengar riuh pedagang jalanan
hiruk-pikuk kendaraan
hanya terpampang rautmu telanjang
dibalik senyum terlihat keadaan

Luna …
kali pertama kusebut lain namamu
tubuhku mematung mengenal dirimu
kau rayu aku, selalu
tapi, …..

Maaf Luna …
kau, korban inspirasiku
seutuhnya-semalaman



cOot’zZ
0501109 21:24

“ hati dan nadi “

0 comments

Ini sepi terngiang sungguh
Tersesat alur remajaku
Hati dan nadi seakan mati
Kini jalani hidup yang pribadi

Semakin tertinggal dalam peraduannya
Sedetik pun tak menjawab partanyaanku
Mendadak terusir dari peradaban

Kembang ketapang menjalar panjang
Merasuk jatuh ke awang-awang
Hingga peluh perih terabaikan

Ini sunyi diseret malam
Semakin merasuk aku yang terdiam
Teringat hati dan nadi
Mencuat dari raga bersamaan
Berhamburan, entah kemana . . .

Ini malam tambah merasuk
Merajam setiap apa yang terbayang
Seakan dadaku terhenti mengembang



cOot’zZ

Senin, 02 November 2009

“ nadi “

1 comments

Kulihat terang jadi menghujam
Kini siang mulai berawan
Matanya menantang mataku
Lalu, nangis . . .

Dan kini ada lagi
Nadi yang dulu mati suri
Dispersi tangisnya
Mencium nadi, satu kali
Tuk kesekian kali, terasa fitri . . .

Ada sesosok pribadi
Bertutup dada bertutup kepala
Dari kejauhan berlari
Kembali . . .
Menantang ragaku

Terasa bumi ada lagi
Kubuka mata, kupijakkan langkah
Masih disini . . .


by : cOot’zZ